Protes karena Tidak Paham

Protes karena Tidak Paham

Demonstrasi atau unjuk rasa, saya rasa kata ini bukanlah kata yang asing bagi kita sebagai mahasiswa. Beragam topik dan tema dikemukakan dalam demonstrasi. Mulai dari persoalan pendidikan, ekonomi, hingga urusan politik. Pihak yang didemonstrasi pun juga sangat beragam, mulai dari pihak kampus hingga kepala negara. Namun dari banyak demonstrasi yang telah dilakukan, apakah demonstrasi telah dilakukan dengan bijak?

Bagaimana sebenarnya demonstrasi dapat disebut demonstrasi yang bijak?

Ada seorang mahasiswa yang saya anggap berpikiran kritis dan cerdas. Dalam suatu kesempatan,ia mendeklarasikan dirinya untuk mengikuti demonstrasi dan mengajak mahasiswa-mahasiswa lainnya untuk ikut berdemonstrasi memenuhi tuntutan yang harus segera disetujui hari itu juga. Malam sebelum Hari-H, saya bertanya dengan penuh keheranan, mengapa ikut demonstrasi? Lalu ia menjawab,tuntutan yang akan disampaikan esok hari sudah memiliki kajian. Esoknya, lini masa media sosial dipenuhi update kegiatan demonstrasi yang berlangsung sejak pagi hingga malam. Saya yang memilih untuk tidak mengikuti demonstrasi hari itu, hanya percaya bahwa demonstrasi itu tidak cukup bijak untuk saya ikuti.

Setelah hampir sebulan pasca demonstrasi hari itu, saya menemukan jawaban atas sikap saya hari itu. Dewasa ini, demonstrasi dilakukan dikarenakan pemahaman yang sepotong-sepotong dari pihak oposisi terhadap topik permasalahan yang menjadi landasan dilakukannya demonstrasi. Lho, bukankah sudah ada kajian sebelum demonstrasi berlangsung? Sayangnya, kajian yang dilakukan hanyalah kajian yang dianggap dapat menjadi bahan dukungan untuk demonstrasi, bukan kajian terhadap penyebab hal-hal yang diprotes dapat terjadi. Bukan menemukan asal usul mengapa suatu kebijakan dibuat, tapi apa saja hal-hal yang dapat mendukung argumen demonstrasi.

Anggaplah demonstrasi menentang penggusuran rumah warga di pinggir sungai sebagai contoh sederhana. Demonstrasi dilakukan dengan argumen penggusuran merupakan hal yang tidak humanis, tidak menimbang faktor penduduk yang sudah tinggal bertahun-tahun, dan kemungkinan dampak ekonomi masyarakat yang tergusur akan terganggu. Padahal apabila ditinjau lebih jauh, penggusuran dilakukan karena penduduk menempati tanah ilegal karena tidak sesuai peruntukannya dan juga dapat membahayakan warga yang tinggal di tempat itu. Selain itu, suatu kebijakan pasti dibuat setelah ada banyak sekali pertimbangan, kajian mendalam, dan dialog. Jika saja para demonstran mau membuka hati dan memahami mengapa pemerintah melakukan kebijakan tersebut, akankah ada demonstrasi? Jika suatu hal ada alasan jelas dan solusi, akankah ada demonstrasi? Jika suatu kelompok mau melihat suatu kebijakan atau kejadian dari kedua sisi dan penuh toleransi, akankah ada konflik?

Kembali ke cerita demonstrasi mahasiswa yang saya ceritakan di awal, sebenarnya kajian seperti apa yang telah dilakukan? Kajian yang membuat argumen para demonstran semakin benar atau kajian yang membuat demonstran paham bahwa tidak ada kejelasan alasan dan solusi dari suatu kebijakan itu sendiri? Sudahkah demonstran mengumpulkan data tanpa menggeneralisir dan menutup diri dari argumen pihak yang didemonstrasi? Mengapa demonstran ingin tuntutannya dikabulkan hari itu juga? Apakah mereka tidak tahu bagaimana proses dan pertimbangan apa saja dalam pembuatan suatu kebijakan?

Selain ketidakpahaman penyebab suatu kebijakan dilakukan, saya merasa kemunduran kualitas demonstrasi diperparah dengan pelabelan “mahasiswa kritis” terhadap seseorang yang “hobi” berdemonstrasi. Dari pengamatan saya, teman-teman saya yang mengecap atau dicap dirinya sebagai “mahasiswa kritis” cenderung tidak lagi bisa membuka hati dan pikiran untuk menerima segala macam argumen yang berseberangan dengan mereka. Pikiran-pikiran seperti inilah yang memperburuk pola pikir kritis seseorang. Mereka merasa cukup keren dengan mengekspresikan pikiran kritis satu sisi mereka dengan demonstrasi—yang tentu saja, dipublikasikan melalui semua media sosial mereka seolah itu merupakan berita terpanas hari itu.

Tidak hanya merasa keren, banyak demonstran yang berpikiran “kritis” menganggap mereka sudah khatam di luar kepala tentang suatu hal. Mereka merasa sudah mengetahui segala hal mengenai suatu topik seolah tidak ada seorang pun yang bisa membantah wawasan mereka. Bagi saya, orang yang merasa sudah khatam ini, tidak bisa dan tidak mau memperdalam pengetahuan mereka tentang hal tersebut.Mereka akan merasa cukup bahkan puas dengan pengetahuan dan pengertian mereka untuk dibawa ke meja diskusi hingga ranah demonstrasi.

Baiknya, segala sesuatu yang akan kita lakukan dan katakan, baik itu dalam demonstrasi, forum diskusi, atau debat, harus berlandaskan kajian yang berimbang diantara dua sisi. Jangan lantas protes karena tidak paham.

Penulis: Tiffani Rizki Putri Baihaqi / Sastra Inggris (2016), FIB UGM
Penyunting: Muhammad Budi Utomo