Mengapa (Harus) Belajar Bahasa Perancis?

M

Avoir une autre langue, c’est posséder une deuxième âme.” – Charlemagne

Tak dimungkiri, bahasa merupakan media utama dalam berkomunikasi sehari-hari, baik itu secara lisan maupun tulisan. Begitu dekatnya manusia dengan bahasa, seseorang pun jadi merasa perlu untuk mendalami dan mempelajari bahasa yang digunakannya. Tidak hanya bahasa ibu saja yang harus dikuasai, melainkan juga bahasa asing. Apalagi di era globalisasi sekarang ini, kemampuan berbahasa asing menjadi nilai plus tersendiri, terutama untuk menunjang pendidikan dan karier.

Salah satu bahasa yang paling banyak digunakan di dunia adalah Bahasa Perancis (le français, la langue française). Menurut Pusat Analisis Bahasa Perancis (Observatoire de la Langue Française), jumlah penutur bahasa Perancis di seluruh dunia –hingga kini– mencapai lebih dari 220 juta orang. Hal ini pun menempatkan bahasa Perancis di peringkat ke-8 sebagai bahasa internasional.

Meskipun demikian, dalam kategori bahasa resmi negara, bahasa Perancis menduduki urutan kedua –setelah bahasa Inggris– di 70 negara dari berbagai benua di dunia. Sebagian negara ini menjadi inisiator terbentuknya Organisasi Frankofoni Internasional (Organisation Internationale de la Francophonie) pada tahun 1970 silam. Hingga kini, organisasi ini sudah memiliki memiliki anggota sebanyak 56 negara dengan 19 negara pengamat.

Selain itu, bahasa Perancis juga menjadi bahasa resmi yang digunakan di lembaga-lembaga internasional. Misalnya saja PBB, Uni Eropa, FIFA, Mahkamah Internasional, Palang Merah Internasional, dan Amnesti Internasional. Dalam berbagai perhelatan antarnegara, seperti olimpiade, bahasa Perancis juga tidak pernah absen sebagai bahasa pengantar resmi.

Eksistensi bahasa Perancis memang tak bisa dielakkan. Oleh karena itulah, setiap tanggal 20 Maret, negara-negara dan organisasi yang menggunakan bahasa Perancis merayakan la journée de la francophonie atau Hari Frankofoni. Tak ketinggalan, Kedutaan Besar Perancis di Indonesia (Ambassade de France en Indonésie) melalui Pusat Kebudayaan Perancis (Institut Français d’Indonésie) pun turut memeriahkan perayaan tersebut dengan mengadakan berbagai acara. Mulai dari pameran kesenian, lomba membaca puisi, menonton film bersama hingga pertunjukkan musik.

Rasanya semua penutur bahasa Perancis sepakat bahwa bahasa Perancis adalah bahasa yang romantis dan indah. Tak heran jika bahasa yang termasuk dalam bahasa Roman ini menjadi salah satu bahan pembelajaran di berbagai sekolah maupun universitas. Di lingkungan Uni Eropa, bahasa Perancis menjadi bahasa asing pilihan pertama –setelah bahasa Inggris- yang diajarkan di sekolah-sekolah dasar dan menengah. Hal yang sama juga terjadi Indonesia. Bahkan sejumlah universitas seperti UI, UGM, Unpad, UB, Unnes, dan Unhas telah membuka jurusan Sastra Perancis. Selain itu, ada beberapa perguruan tinggi lainnya juga yang membuka jurusan Pendidikan Bahasa Perancis, misalnya di UNY, UPI, UNJ, Unnes, Unimed, dan Unila.

Menguasai bahasa Perancis merupakan aset pembangunan ekonomi, menurut Jean-Benoît Nadeau dalam bukunya yang berjudul Le français, quelle histoire! atau Bahasa Perancis, Kisah yang Luar Biasa dalam terjemahan bahasa Indonesia. Tentu hal ini bukanlah tanpa alasan, mengingat saat ini banyak perusahaan Perancis yang telah melebarkan sayapnya di dunia. Sebut saja jaringan perusahaan ritel Wal-Mart, Carrefour, yang sudah hadir di 34 negara, termasuk di Indonesia, meskipun kini statusnya sudah diakusisi oleh CT Corps.

Sekali lagi, kemampuan berbahasa Perancis akan menjadi nilai tambah sendiri bagi penuturnya. Apalagi apabila kemampuan tersebut sudah dilengkapi dengan sertifikasi kemampuan berbahasa Perancis (DELF/Diplôme d’Études en Langue Française) yang seringkali menjadi prasyarat untuk melanjutkan pendidikan ke Perancis. Dalam dunia karier, memang, tidak semua perusahaan Perancis mensyaratkan calon karyawannya untuk memiliki sertifikasi bahasa Perancis. Namun, tetap saja, untuk ‘bertahan hidup’ dalam situasi serupa, mau tidak mau seseorang harus bisa berbahasa Perancis bukan? Perlu diingat pula bahwa kebanyakan orang Perancis masih enggan –atau malah tidak bisa– berkomunikasi selain menggunakan bahasa Perancis. Jadi, bagaimana komunikasi itu terjalin jika salah satu atau keduanya tidak saling mengerti satu sama lain?

Menguasai bahasa Perancis tidak hanya sebagai langkah untuk menyesuaikan diri di era globalisasi maupun jajaran elit dunia, akan tetapi juga merupakan suatu kebutuhan. Pembelajaran suatu bahasa pun tentu tak bisa lepas dari budaya dan kebiasaannya. Sehingga, menguasai bahasa Perancis juga akan memperkaya pengetahuan, terutama pengetahuan di berbagai buku dan artikel berbahasa Perancis yang –seringnya– tidak ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

(Menguasai bahasa baru laksana memiliki jiwa kedua)

Penulis: Floriberta Novia Dinda Shafira/Bul
Penyunting: Hanum Nareswari


Referensi
http://www.ambafrance-id.org/Perancis-bahasa-umum-bagi-220-juta

 

Rubrikasi