Menikah di Sulawesi Selatan

Pengantin perempuan telah menunggu sejak dua jam yang lalu. Dengan bedak putih di wajahnya, pakaian pengantin glamor gaya Makassar yang menghias badannya, sanak keluarga di kanan-kirinya, ia menunggu calon suaminya di dalam ruangan berpintu bambu yang dipasang di rumahnya. Rumah itu terbuat dari kayu bermodel panggung yang ditutupi atap seng.

Sorot matanya sering berpindah dari sisi kanan ke sisi kiri, dan sebaliknya, dengan jeda yang cukup cepat. Ia jarang tersenyum. Sementara para undangan duduk dengan nyaman setelah puas menyantap hidangan di dekat pintu. Para undangan memang dipersilakan untuk makan terlebih dahulu sebelum akad nikah dimulai. Di dalam baskom-baskom itu disajikan berbagai jenis masakan: nasi, mie, daging sapi, ayam, kuda, acar, dan kerupuk.

Setelah beberapa saat, pengantin laki-laki datang. Ia menggunakan jas dan celana kain hitam. Ketika melintas pintu pagar, seseorang melempar beras kuning ke badan lelaki tersebut. Ia hanya tersenyum dan langsung naik ke ruangan akad nikah. Para tamu undangan juga bergegas masuk. Penghulu sudah siap-siap memulai acara.

“Tunggu!”, Ilham Asbar (Kepala Dusun Gallea, Desa Biangkeke, Bantaeng, Sulawesi Selatan) sedikit berteriak dari balik pintu.

Suasana mendadak seperti sinetron yang sering menyajikan adegan interupsi akad nikah karena kekasih lain salah satu mempelai datang. Semua orang menoleh ke arah pintu. Ternyata Ilham berkata, bahwa akad nikah belum bisa dilangsungkan. Sebab iringan tetabuhan belum dilakukan. Ilham bilang kalau para hadirin diharap menunggu para pemain tetabuhan yang sedang dalam perjalanan. Tetabuhan yang berupa gendang dan gong itu harus dilakukan karena pengantin perempuan adalah keturunan ningrat.

“Dulu, tetabuhan itu dilaksanakan lebih meriah. Sekarang dimainkan oleh dua orang saja,” kata Ilham.

Tetabuhan sebelum pernikahan itu adalah tradisi dari Kerajaan Bantaeng yang sudah berumur 763 pada 7 Desember tahun ini. Usia yang sangat tua itu membuat Bantaeng dijuluki Butta Toa (Tanah Tua). Tetabuhan itu dan hiasan gapura bambu di pintu masuk rumah sang pengantin awalnya digunakan oleh para keturunan kerajaan saja. Akan tetapi, saat ini, masyarakat yang bukan keturunan ningrat juga melakukannya. Meskipun beberapa keturunan ningrat melarang orang lain yang bukan golongan ningrat melakukan kegiatan tersebut.

Uang Panai’

Akad nikah telah usai. Doa-doa telah dipanjatkan oleh penghulu agar kedua mempelai menjadi pasangan yang berbahagia. Beberapa tamu ngobrol di samping rumah. Mereka membicarakan jumlah uang panai’ pernikahan yang baru saja dilangsungkan. Obrolan mereka terlihat bergairah. Namun, si penghulu yang juga berada di situ berkata, “kok malah bicara uang panai’. Bicara ki tentang hal-hal yang membahagiakan di antara dua pasangan saja…”

Uang panai’ adalah sejumlah uang yang diserahkan pihak keluarga laki-laki ke keluarga perempuan dan menjadi hak sepenuhnya keluarga perempuan. Ketika kedua pasangan memutuskan untuk melakukan pernikahan, maka pihak keluarga laki-laki menemui keluarga perempuan. Perlu ada catatan di sini bahwa perwakilan keluarga laki-laki bukanlah orang tua dari calon mempelai. Seorang ayah tidak boleh mewakili putranya dalam membicarakan uang panai’. Yang mewakili bisa pamannya, sepupu, atau sepupu dua kali. Sementara dari pihak perempuan diwakili langsung oleh orang tua dari si calon pengantin.

Di pertemuan itulah terjadi ‘negosiasi’. Pernikahan akan batal bila tidak terjadi kesepakatan nilai uang panai’. Bahkan jika uang tawarannya hanya beda seratus ribu rupiah. Bila keluarga perempuan tidak setuju, ya tidak jadi.

Istilah uang panai’ sudah banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia karena beberapa media nasional dan daerah sudah memberitakannya. Asril Sani dan Halim Gani Safia juga telah membikin film berjudul Uang Panai’ = Maha(r)l yang dirilis 25 Agustus 2016. Film ini menjadi film daerah pertama yang berhasil menembus Box Office Indonesia.

Perbincangan mengenai uang panai’ kembali ramai pada Mei 2017. Kala itu, di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel), Anjas Malik dan Amalia Hambali menikah dengan uang panai’ sebesar 1 Milyar, 1 mobil Alphard, dan emas 3 kilogram. Omongan tentang uang panai’ menjadi menarik karena nilainya yang fantastis. Posisi tawarnya berbeda-beda, tergantung latar belakang dari si perempuannya. Salah satu ukurannya adalah tingkat pendidikan. Semakin tinggi gelar pendidikan yang melekat pada nama sang perempuan, maka tawaran uang panai’-nya semakin tinggi pula. Harga uang panai’ akan semakin tinggi lagi bila si perempuan adalah keturunan ningrat.

“Tetapi hari ini tradisi uang panai’ dilaksanakan jauh dari tujuannya. Sekarang lebih fokus pada gengsi,” pungkas Ilham. Padahal, menurut Ilham, leluhur orang Sulsel mewariskan tradisi tersebut ke anak cucunya dengan maksud tertentu. Para leluhur masyarakat Sulsel sadar bahwa karakter dasar diri mereka yang ‘keras’. Orang-orang Sulsel tahu bahwa mereka tidak menahan diri ketika ingin mengatakan sesuatu. Yang ingin dikatakan keluar begitu saja. Dari situlah muncul kekhawatiran dari mereka bila sifat tersebut tetap dominan di dalam sebuah keluarga. Mereka khawatir terjadi banyak perceraian. Untuk itu, mereka membentuk konsep uang panai’, agar kedua mempelai kelak sama-sama “berpikir ulang” bila muncul keinginan untuk menyudahi hubungan. Sebab ada biaya besar untuk membuat sah pernikahan mereka.

Uang panai’ menjadi semacam pengingat bagi para lelaki, apabila ingin melamar, perlu mikir: apakah saya sudah benar-benar serius untuk menjalani hubungan? Dari tujuan semacam itulah diharapkan uang panai’ juga dapat mengurangi praktik poligami.

Mappaccing

Kemeriahan acara pernikahan di Sulsel tidak hanya terjadi saat akad nikah dan resepsi saja. Sehari sebelum akad nikah, masing-masing keluarga mempelai melaksanakan mapaccing, yang secara harfiah berarti bersih atau suci. Artinya, calon pengantin dibersihkan terlebih dahulu jiwa dan raganya sebelum mengarungi kapal keluarga.

Acara dimulai dengan membaca Alquran juz 30 secara bergantian, tidak bersama-sama. Satu orang membaca satu surat. Setelah mencapai huruf terakhir Alquran, dilanjutkan dengan membaca surat 1 dan bagian awal surat 2. Setelah itu, pembacaan doa-doa. Susunan doa yang dibaca sama dengan doa yang juga dibaca oleh orang Madura di ritual yang berbeda. Bedanya, orang Sulsel membaca doa tersebut dengan sangat ekspresif. Gerakan tangannya bervariasi dan nadanya berganti-ganti.

Saat pembacaan ayat-ayat Alquran, calon pengantin dengan posisi bersimpuh diselimuti kain sarung satu per satu. Ada banyak kain sarung yang dipasang ke punggung calon pengantin tersebut. Bila mata sedikit mendongak ke gapura bambu yang menghias kasur, beberapa sarung digantungkan di bagian atasnya. Warna dari sarung-sarung tersebut hampir seragam. Sebagian besar sarung itu tidak pernah dipakai, memang khusus untuk hiasan saja.

Setelah itu, ada waktu istirahat sejenak. Tuan rumah mempersilakan para pembaca Alquran menyantap makanan yang sedari tadi sudah siap di pojok ruangan.

Setelah semua orang selesai makan, acara kembali dilanjutkan dengan pembacaan Barzanji yang juga dilakukan secara bergiliran. Halaman-halaman awal dibaca oleh seseorang yang dianggap lebih tinggi kehormatannya daripada yang lain. Orang itu membacanya dengan suara pelan, sementara yang lain berbincang-bincang dengan orang di sebelahnya. Sehingga, suara pembaca berzanji pertama tidak terlalu terdengar. Ia mengangkat kitab Barzanji yang tadinya berada di atas bantal, agar huruf-huruf itu lebih dekat ke kacamatanya. Fotografer acara mondar-mandir di ruangan yang cukup sempit itu, sehingga terkadang ia mengganggu para hadirin yang mencoba khidmat mendengarkan gema Barzanji.

Saat mencapai waktunya mendendangkan salawat kepada nabi, para hadirin berdiri. Irama yang digunakan oleh masyarakat Sulsel lagi-lagi berbeda dengan nada di Madura dan Jawa. Kumpulan nada itu lebih terdengar seperti letupan-letupan. Namun bukanlah letupan kemarahan, melainkan kasih sayang. Dari suara letupan itu terasa rasa cinta kasih yang begitu mendalam kepada Nabi Muhammad SAW. Rasa cinta yang diungkapkan secara total.

Padahal pembacaan Barzanji belum usai, tapi para ibu sudah mulai memasuki ruangan itu. Mereka secara bergantian mengoles suatu bubuk serupa tepung ke wajah sang calon pengantin. Sebelum mengoles bubuk tersebut, mereka duduk sebentar di depan kasur sambil mengucap doa dan harapan untuk si pengantin. Ada cerita bahwa para anak muda yang turut mendapat olesan bubuk tersebut bisa cepat bertemu dengan jodohnya. Mereka menggunakan kata “bertemu” dalam cerita itu. Sebab sebagian dari mereka percaya, bahwa jodoh tiap-tiap manusia sudah ditetapkan oleh Tuhan sejak lahir, seperti halnya rezeki dan umur. Jadi, mereka percaya usapan bubuk tersebut dapat mempercepat pertemuan kita dengan jodoh yang sudah sedari awal ditetapkan.

Penulis: Dandy IM
Penyunting: Hafidz W. Muhammad