Closing Ceremony PPSMB Palapa 2017: UGM Kembali ke Jati Dirinya

Sabtu (12/07) kemarin, acara Pelatihan Pembelajaran Sukses Mahasiswa Baru resmi berakhir. Tepat pada pukul 11.45 WIB, ribuan Gadjah Mada Muda (Gamada) berbondong-bondong memasuki lapangan Grha Sabha Pramana (GSP). Mereka berlari didampingi oleh masing-masing co-fasilitator atau yang kerap disapa Cofas.

Antusiasme tidak hanya dirasakan oleh Gamada saja, melainkan juga oleh masyarakat sekitar. Mulai dari orang tua, mahasiswa-mahasiswa UGM hingga pedagang asongan, semuanya turut meramaikan tribun GSP. Semuanya ingin menyaksikan perhelatan akbar yang terjadi setahun sekali tersebut.

Acara penutupan PPSM Palapa 2017 ini menghadirkan beberapa pembicara yang akan menyampaikan orasi. Sekitar pukul 14.30 WIB, mahasiswa berprestasi (Mapres) UGM 2017, yaitu Pralampita Kori Mufidah (Rekam Medis SV ‘14) dan Wyncent Halim (Hukum ‘14) pun menyampaikan orasinya. Keduanya kompak memberikan pesan mengenai pentingnya berkontribusi dengan segala usaha terbaik bagi Indonesia. Tak lupa, mereka juga memotivasi para Gamada untuk terus mengejar cita-citanya. Bagi keduanya, mengejar cita-cita tentu masih erat hubungannya dengan tema yang diusung PPSMB Palapa 2017, yaitu “Dari UGM Untuk Indonesia”. Kemudian, acara dilanjutkan dengan penampilan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Marching Band UGM yang membawakan lagu berjudul “Passion”.

Tak sampai di situ saja. Acara ini juga masih dilanjutkan dengan orasi kebangsaan yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi. Beliau menyampaikan dorongan kepada mahasiswa baru mengenai pentingnya rasa nasionalisme serta keharusan untuk gigih dalam mengejar cita-cita. “Terus kejar mimpimu, terus kejar cita-citamu untuk satu Indonesia Raya!” seru beliau.

Akhirnya pada pukul 15.30 WIB, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. membunyikan terompet sebagai tanda penutupan acara PPSMB Palapa 2017.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini Gamada juga membentuk formasi yang tersusun dari berbagai warna caping, seperti kuning, abu-abu, putih, dan hitam. Jika pada tahun 2016, Gamada membentuk empat formasi sekaligus dengan metode human LED, pada tahun ini Gamada hanya menyuguhkan dua formasi saja. Bedanya, pada saat upacara pembukaan Gamada membentuk formasi tulisan PPSMB Palapa 2017. Sedangkan, pada saat upacara penutupan, Gamada membentuk formasi Logo UGM.

Terkait dengan formasi yang disuguhkan tahun ini, terdapat sedikit perbedaan dengan PPSMB tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dibenarkan oleh Yasyfi Ridhowati (Ilmu Komunikasi ’16) selaku anggota Divisi Acara. “Nggak mulu-mulu menekankan pada formasi, tetapi juga pada materinya, yaitu terkait dengan kebinekaan dan anti korupsi. Jadi kita lebih menekankan pada hal-hal yang sifatnya substansi,” terangnya. Alasan pemilihan logo UGM sebagai formasi penutup PPSMB tahun ini disesuaikan dengan tema yang diangkat yaitu “Dari UGM untuk Indonesia”. Apabila pada PPSMB tahun-tahun sebelumnya UGM selalu menghadirkan unsur internasional di dalam formasi yang ditampilkan, akan tetapi kali ini UGM ingin kembali ke jati dirinya sendiri dengan menggunakan logo UGM sebagai fomasi PPSMB.  

Rangkaian acara PPSMB Palapa 2017 tentu menorehkan kesan tersendiri bagi para mahasiswa baru, seperti yang diungkapkan oleh Muhammad Arif Purnomo Aji (Geografi ‘17). “Tadi pas awal-awal terasa cukup capek, tapi setelah lihat dari layer begitu indahnya formasi yang dibentuk tadi. Seru banget!”.

Terakhir, acara PPSMB 2017 ditutup dengan penampilan dari Gama Band dan sesi foto bersama para Gamada dan panitia.

Oleh : Anisa Sawu, Nada Celesta, Trishna D Wulandari
Penyunting : Floriberta