Racun Baru Bertebaran di Media Sosial

Masyarakat Indonesia sekarang sedang terlanda bahaya laten dari media sosial. Media sosial yang berfungsi sebagai alat komunikasi sekarang berubah menjadi masalah baru yang sudah mulai meresahkan. Merambahnya media sosial yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat menjadi inti dari bermulanya masalah-masalah sosial ini muncul. Seperti biasanya, memang sesuatu yang diminati orang banyak tidak menutup kemungkinan dapat disalahgunakan oleh beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab.

Media sosial sekarang telah menjadi racun bagi masyarakat. Mengapa racun? Karena ketika dibiarkan akan merusak keadaan masyarakat itu sendiri. Secara perlahan media sosial justru memberi dampak yang buruk bagi masyarakat. Jika anda memperhatikan media sosial seperti facebook, twitter, line, whatsapp, dan sebagainya sekarang berisi konten-konten yang sebagian informasinya tidak relevan dengan fakta yang ada.

Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa penyebaran informasi sekarang sudah tidak dapat dibendung lagi. Informasi sudah sangat mudah didapat dan disebarkan. Masyarakat sudah bebas memiliki akun-akun media sosial. Kontrol dari pemerintah ataupun pihak terkait pun tidak mampu lagi membatasi fenomena ini.

Kemudahan masyarakat untuk memiliki akun media sosial inilah yang menjadi masalah awal yang harus dipikirkan. Kemudahan inilah yang memungkinkan satu orang dapat memiliki banyak akun media sosial. Sehingga akun media sosial tersebut terkadang adalah akun palsu yang sekadar dibuat demi kepentingan tertentu. Hal inilah yang memicu terjadinya informasi yang berisi kepentingan beberapa oknum saja. Informasi seperti ini biasanya disebut dengan sebutan “hoax”.

Seperti kasus-kasus yang terjadi belakangan ini di Yogyakarta. Ada informasi yang mengatakan bahwa Yogyakarta sedang terkena wabah penyakit antraks. Informasi ini benar dan sesuai fakta, tetapi ada beberapa oknum yang membesar-besarkan berita tersebut. Sehingga masyarakat mulai resah dengan kejadian tersebut. hal-hal seperti inilah yang patutnya diwaspadai.

Selain berita-berita hoax, media sosial pun sekarang telah berubah menjadi ajang hujat-menghujat antar golongan. Media sosial menjadi tempat menyebar kebencian. Kalau anda memperhatikan dengan seksama, terkadang ada konten-konten yang mengandung unsur SARA dan hal negatif lainnya. Hal ini menyebabkan masyarakat yang mudah terhasut menjadi saling menghujat. Dinding toleransi dalam kesatuan masyarakat seakan tak pernah dihiraukan lagi. Ironisnya, terkadang konten tersebut hanya digunakan untuk menaikkan jumlah followers dari akun media sosial yang bersangkutan tersebut.

Keadaan ini seharusnya diwaspadai dan disikapi serius oleh pemerintah. Media sosial harus dimanfaatkan sebagai alat yang berimbas positif bagi masyarakat. Masyarakat pun harus berperan aktif sebagai titik keseimbangan untuk mengelola keadaan ini, karena tanpa peran masyarakat, pemerintah pun tidak akan mampu menciptakan media sosial yang bersih dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Menjadi pengguna media sosial saja bukan satu-satunya alasan untuk menerima mentah-mentah suatu informasi yang telah beredar. Dibutuhkan kearifan dalam berpikir sebagai filter atas reaksi yang akan dimunculkan akibat dari informasi yang telah didapatkan, sehingga, hal ini akan mencegah terjadinya perselisihan di lingkungan masyarakat. Jadi, bagi kalian yang menggunakan media sosial harap berhati-hati dengan konten-konten yang ada. Sebaiknya anda mengklarifikasi suatu informasi terlebih dahulu. Jadilah pribadi yang teliti dan bijak daam mengelola media sosial. Jangan mudah percaya dan tetap waspada dengan informasi yang anda dapat.

Oleh: Rizki Ardinanta / Manajemen dan Kebijakan Publik 2015
Penyunting: Fanggi Mafaza

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here