Ketua BEM KM UGM Perlu Tahu Peran Pers

Bagus Panuntun, ketua BEM KM UGM, adalah seorang pemberani. Meski begitu, ia kurang paham peran pers. Hal tersebut terlihat pada tulisannya yang berjudul “Membaca Kolaborasi Kebaikan: BEM KM UGM Milik Semua, Diisi Para Pemberani.”

Izinkan saya berbagi pengetahuan dan pengalaman perihal peran pers. Saya mendapatkannya selama bergiat di pers kampus. Tentu saja ini adalah sebuah pembelaan. Namun, saya berharap pembaca sadar bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada harga diri sebuah UKM.

Di artikel tersebut, Bagus bertanya: “Koq, bisa-bisanya SKM Bulaksumur meloloskan tulisan opini berikut, tanpa adanya proses editing dan konfirmasi terhadap substansi terlebih dahulu?”

Saya hanya akan menanggapi pertanyaan tersebut dari beberapa pertanyaan yang Bagus ajukan. Sebab, pertanyaan-pertanyaan lainnya bukanlah urusan saya.

Bagus mungkin lupa bahwa artikel yang ia komentari, “Ironi Universitas Gadjah Mada: Keberagaman yang Semu”, dimasukkan ke dalam rubrik Opini. Dengan demikian, pihak media tidak perlu mengonfirmasi isi tulisan layaknya berita. Media punya dua pilihan ketika menerima tulisan opini: mengembalikannya kepada penulis, atau menyunting tata bahasa agar sesuai dengan karakter media tersebut.

Bul (sapaan akrab SKM UGM Bulaksumur) mempunyai visi dalam penerbitan artikel di rubrik Opini. Hal itu berkaitan dengan salah satu peran pers yang kurang dipahami oleh Bagus. Sederhananya, pers membawa wacana. Pers mengangkat hal-hal yang selama ini tenggelam dan terlupakan, atau hanya menjadi bisikan-bisikan di pojok kantin. Bisa dikatakan, pers menjadi semacam pengingat bagi publik untuk sesuatu yang penting tapi ditinggalkan. Maka dari itu, belakangan pers mahasiswa di Yogya lebih fokus menggarap isu-isu lokal. Ini bukan berarti sebuah pengakuan kegagalan bersaing dengan media arus utama. Namun, ini adalah sebuah bentuk kekecewaan dan niat memperbaiki tingkah media mainstream yang sering melupakan isu tersebut dan lebih tertarik membahas gosip nasional. Karena Bul adalah sebuah media komunitas di lingkungan UGM, maka ia punya tanggung jawab untuk menjadi penerang di area tersebut.

Dalam kerangka visi itulah, Bul menganggap tulisan rekan mahasiswa Wibi Lungidradityo layak untuk terbit. Penyampaiannya sederhana sehingga mudah dipahami, dan punya arah yang menarik. Ia membuka perbincangan mengenai BEM KM secara terbuka; tentang orang-orang di dalamnya, arah pergerakannya, dan hal-hal yang menurut dia perlu dibenahi.

Hal tersebut tentu saja perlu disikapi dengan bijak, karena dia bersedia untuk memulai, atau setidaknya mengingatkan kembali. Perbincangan mengenai BEM KM sungguhlah penting, dan menurut pengamatan Bul, memang perlu dilakukan agar BEM KM bisa menjadi lebih baik. Pandangan ini salah satunya disebabkan oleh hasil survei yang pernah dilakukan oleh Tim Litbang Bul tahun lalu, yang menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa UGM terhadap program kerja BEM KM UGM hanya sebesar 25%. Artinya, 75% mahasiswa tidak mengetahui hal tersebut. Ini menunjukkan kepedulian mahasiswa terhadap BEM KM rendah. Hasil survei tersebut diterbitkan di Bulaksumur Pos Edisi Parameter.

Selain itu, Direktur Kemahasiswaan, Dr. Drs. Senawi M.P., tidak mengakui adanya Presiden Mahasiswa. Ia menyampaikannya pada suatu kesempatan wawancara tentang PPSMB. Saya sendiri yang mewawancarainya.

“Sekarang pun Anda sudah tahu tho, kita nggak ada Presiden Mahasiswa di UGM?” kata Senawi yang duduk tepat di hadapan saya, dalam suasana on the record.

Saya cukup kaget dengan pernyataan tersebut. Seorang Direktur Kemahasiswaan yang secara struktur berada di atas semua UKM (termasuk BEM KM), sudah mengeluarkan pernyataan begitu rupa. Hal ini tentu menjadi sebuah masalah. Sejak saat itu, saya tidak lagi menggunakan istilah ‘Presiden Mahasiswa’ di dalam karya-karya saya di Bul atau pun perbincangan sehari-hari. Saya menggantinya dengan istilah ‘Ketua BEM KM’.

Walau demikian, Bul tetap menganggap kehadiran BEM KM penting. Ia tentu punya peran tersendiri. Kritik (kalaupun memang harus dilakukan) selama ini disampaikan dalam rangka memenuhi cita-cita Bul menjadi media komunitas yang salah satu fungsinya adalah membantu organisasi/komunitas di UGM berkembang. Kita tentu perlu ingat, pihak rektorat juga beberapa kali tidak terbuka kepada mahasiswanya. BEM KM sedikit banyak berperan dalam membenahi hal tersebut.

Seperti yang saya sampaikan di awal, Bagus Panuntun adalah seorang pemberani. Ia berani secara terbuka membicarakan kondisi internal BEM KM. Hal tersebut adalah sesuatu yang bagus. Karena dari pengalaman Bul belakangan ini, saya khususnya, ada kesan bahwa BEM KM kurang terbuka kepada media. Salah satu contohnya adalah liputan permasalahan di PPSMB PALAPA 2016, baik sebelum pelaksanaan maupun penutupan, yang tidak dihadiri ketua BEM KM.  Ketua PPSMB kala itu, Gita Prasulistiyono Putra (Manajemen ’14) bersedia menemui saya dan menceritakan permasalahan tersebut berdasarkan versinya secara lengkap dan utuh. Aldia Rakanza (Ilmu Hukum ’13) juga secara terbuka menceritakan permasalahan yang sedang dihadapi Senat KM di PPSMB dan pandangan-pandangannya untuk perbaikan Senat. Sementara itu, Ali Zaenal Abidin, ketua BEM KM saat itu, tidak kunjung bisa menemui saya, bahkan setelah saya hubungi berkali-kali. Akhirnya ia hanya bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya lewat aplikasi Line. Saya yang tidak belajar jurnalistik melalui kuliah, tetapi melalui berbagai kegiatan di Bul, ketika diberi tahu bahwa sumber berita terbaik itu lewat wawancara langsung, saya tentu mempercayainya saja. Saya bahkan meragukan wawancara lewat telepon.


baca juga: Senjakala BEM dan Senat KM UGM


Saya terpaksa membanding-bandingkan. Saya terpaksa melepas fakta-fakta itu agar puan dan tuan tergerak untuk melakukan perbaikan. Sebab bukanlah kerjaan Bul (sebuah persma) untuk membenahi organisasi aktivis harapan bangsa.

Terakhir, saling kritik gagasan antara Wibi dan Bagus Panuntun ini kabar baik bagi kultur akademik kita. Soalnya belakangan ini kok lempeng-lempeng saja. Saling koreksi gagasan itu biasa dan perlu dalam lingkup kampus, agar gagasan-gagasan itu tidak hilang begitu saja. Bul sudah menyediakan wadah untuk hal itu. Cukup disampaikan secara sederhana saja. Tidak perlu terlalu rumit dan sok njlimet yang pada akhirnya malah bikin bingung pembaca.

Oleh: Dandy Idwal Muad
Pemimpin Umum SKM UGM Bulaksumur

Penyunting: Hanum Nareswari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here