Foto: Aninda Nur Handayani/BulAninda Nur Handayani/Bul

Simmus UGM: Terobosan UGM dalam Melanggengkan Nilai Luhur Bangsa?

Komitmen UGM untuk menjadikan  museum sebagai penguat jati diri dan sumber inspirasi  masa depan bangsa rupanya digarap secara serius. Hal ini tak lepas dari kenyataan bahwa UGM merupakan salah satu universitas terbesar dan tertua di Indonesia, serta menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan di tanah air. Rabu (26/7) berlokasi di Balai Senat Gedung Pusat UGM, soft launching Sistem Informasi dan Manajemen Museum (Simmus) UGM sukses dilaksanakan. Acara ini dihadiri oleh pejabat tinggi tingkat universitas maupun fakultas, kolega tokoh pendiri UGM, mahasiswa dan tamu undangan yang berasal dari pihak pemerintah maupun non-pemerintah. Sayangnya, Prof Ir Panut Mulyono MEng DEng selaku Rektor UGM berhalangan hadir untuk menyaksikan soft launching ini.

Dibekali dengan souvenir yang dikemas cantik berisi sebuah booklet dan DVD mengenai pengetahuan museum, hadirin dengan tertib memasuki ruangan. Acara dimulai pukul 10.10 WIB dengan diawali menyanyikan lagu Indonesia Raya dan hymne Gadjah Mada. Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat, Prof Dr Suratman. “Simmus diharapkan dapat menginspirasi Provinsi D.I.Yogyakarta yang kemudian dapat dijadikan sebagai global education,” tuturnya.

Simmus UGM merupakan semacam website yang mengintegrasi enam museum, yaitu Museum UGM, Museum Biologi, Museum Kayu Wanagama, Museum Paleoantropologi, Museum Gumuk Pasir dan Museum Peta. Dengan mengakses Simmus UGM, sivitas akademika dapat menggali informasi mengenai museum yang dikehendaki dengan mudah. Cukup dengan log-in, pengguna bisa mendapatkan informasi mengenai deskripsi, penjelasan gambar, lokasi museum dan jumlah koleksi yang tersimpan di dalamnya.

Foto: Aninda Nur Handayani/Bul

Di sisi lain, Prof Dr Suratman juga menyampaikan kekhawatirannya mengenai kondisi museum yang saat ini sepi pengunjung. “Saat ini kebanyakan orang cenderung memilih berkunjung ke mall dari pada ke museum. Padahal di Perancis pengunjung museum dalam sehari bisa mencapai ribuan orang hanya untuk melihat kekagumannya terhadap figur tokoh, materi atau hanya sekedar mengagumi arsitektur bangunan,” bandingnya. Hadirnya Simmus UGM ini sebagai bentuk terobosan agar mampu memperkuat kembali atensi sivitas akademika dalam menghargai sejarah peradaban bangsa di tengah era modernisasi dan digitalisasi ini.

Acara dilanjutkan dengan hiburan Tari Golek Ayun-Ayun yang menceritakan gadis yang sedang beranjak dewasa dan sedang gemar berdandan. Tarian ini dikaitkan dengan kondisi Museum UGM, bahwa diumurnya yang terbilang muda, ia juga membutuhkan pembenahan diri ke arah yang lebih baik. Meskipun acara ini berlangsung kurang dari satu jam, namun kekhidmatan dalam acara ini sangat terasa. Acara mencapai puncaknya ketika pendiri sekaligus pengelola Museum UGM, Widodo STP MSc memimpin doa dan mengakhirinya dengan meneriakkan jargon. “Museum UGM? Museum di hatiku,” yang diikuti hadirin dengan penuh semangat.

Oleh: Aninda Nur Handayani/Bul
Penyunting: Hafidz Wahyu Muhammad