Child Labor: Gugur Harapan Bangsa

Seorang anak, bagaikan tunas, yang menjadi harapan baru bagi bangsa. Anak menjadi aset yang sangat penting sekaligus sangat rentan. Pola asuh dan keadaan lingkungan berpengaruh besar pada pembentukan karakter anak. Dan sudah selayaknya setiap anak mendapat kesempatan untuk tumbuh secara optimal, baik secara fisik maupun mental.

Perlindungan dan pendidikan anak menjadi tanggung jawab bagi setiap orang, baik orang tua, masyarakat sekitar, hingga pemerintah. Pemenuhan hak-hak dasar anak penting dilakukan untuk mengoptimalkan potensi yang mereka miliki. Maka, penting bagi anak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang berkualitas.

Segala tindakan kekerasan dan eksploitasi sepatutnya dihindarkan dari anak-anak. Namun, kenyataan di Indonesia berkata sebaliknya. Tidak sedikit pihak yang tidak paham dan tidak peduli pada hak-hak anak. Hal ini menyebabkan terjadinya tindakan eksploitasi pada anak. Salah satu contoh tindakan eksploitasi yang marak terjadi di Indonesia adalah child labor.

Child labor adalah istilah untuk anak-anak yang dipekerjakan, biasa disebut tenaga kerja di bawah umur atau pekerja anak. Anak-anak dipekerjakan dengan pekerjaan yang menguras waktu dan tenaga mereka. Gaji yang mereka terima pun tidak sebanding dengan usaha yang mereka berikan.

Tidak hanya di Indonesia, praktik child labor juga terjadi di hampir seluruh belahan dunia. Direktur International Labour Organization (ILO) Indonesia, Fransescod’Ovidio, pada 8 Juni 2016, mengatakan bahwa masih terdapat 168 juta buruh anak di seluruh dunia. Sektor yang paling banyak mempekerjakan anak berusia 5-17 tahun adalah sektor pertanian (59%), jasa (32,2%), dan industri (7%). Di Indonesia sendiri masih terdapat 2,3 juta pekerja anak. Sebagian besar mereka berlokasi di Indonesia bagian timur.

Praktik child labor biasanya didasari oleh faktor ekonomi. Keadaan ekonomi yang lemah mendasari orang tua atau pengasuh untuk melakukan segala cara, termasuk menyuruh anaknya bekerja. Sekalipun orang tua mengerti pentingnya pendidikan bagi anak, sayangnya keadaan ekonomi masih lebih kuat untuk mendorong mereka membiarkan anaknya bekerja. Mirisnya lagi, hukum yang mengatur perlindungan hak anak masih belum cukup kuat untuk melindungi anak-anak bangsa dari praktik eksploitasi.

Meski dalam UU Pasal 88 No. 23 Tahun 2002 telah disebutkan bahwa setiap orang yang mengeksploitasi anak untuk menguntungkan diri sendiri akan dipidana, kurangnya pengawasan menjadikan praktik child labor masih marak terjadi. Contohnya saja, di jalan-jalan protokol perkotaan, dapat dengan mudah dijumpai anak-anak yang meminta uang dengan mengamen, mengemis, dan berbagai cara lainnya. Di beberapa daerah di Indonesia, bahkan tidak sedikit anak yang harus bekerja di tambang, sawah, atau perkebunan, dimana pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga yang extra.

Keberadaan praktik child labor memiliki banyak dampak bagi anak. Keamanan, keselamatan, kesehatan, dan perkembangan fisik dan psikis mereka terancam. Anak-anak tidak lagi bisa merasakan haknya untuk merasakan perlindungan. Mereka juga tidak bisa menikmati banyak waktu untuk bermain, apalagi belajar. Hal ini tentu menghambat dan menggugurkan cita-cita Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Praktik child labor ini tentu tidak dapat dibiarkan terus terjadi. Bagaimanapun keadaan keluarga, anak tetap memiliki hak untuk mengenyam pendidikan dan merasakan kebebasan. Persoalan yang menjadi tanggung jawab seluruh elemen bangsa ini dapat dicegah dengan mengadakan sosialisasi mengenai pentingnya pendidikan bagi anak. Pembangunan rumah belajar tidak berbayar pun dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan dan penanggulangan. Di samping itu, hukum yang telah ada sudah sepatutnya dikawal lebih ketat lagi agar setiap pelanggaran mampu ditindak dengan tepat dan menghindarkan masyarakat dari tindakan eksploitasi pada anak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here