Dilema Tembakau Gulung

Apakah seseorang boleh menggambar tato di tubuhnya? Jawabannya mungkin akan bersifat subjektif dari setiap individu. Ada yang beranggapan tato adalah sesuatu yang sah-sah saja apalagi untuk menambah estetika. Namun, ada pula yang menganggap hal itu adalah “haram” baik karena ancaman kesehatan ataupun alasan agama.

Begitu pula yang akan terjadi bila muncul pertanyaan, apakah seseorang boleh merokok? Jawaban yang diberikan pastinya antara “iya” atau “tidak”. Seseorang bisa saja berkata “iya” karena merokok dianggap sebagai sarana relaksasi dan pemicu ilham. Di sisi lain, jawaban “tidak” juga bisa dilontarkan dengan alasan yang berkaitan dengan masalah kesehatan dan ekonomi.

Jadi, bolehkah seseorang merokok? Mayoritas peraturan di lingkup internasional telah melarang kegiatan merokok, seperti yang telah diterapkan beberapa negara ASEAN dan negara-negara di Eropa. Tergantung apakah pihak pembuat kebijakan mementingkan aspek relaksasi dan rekreasi atau aspek kesehatan dan ekonomi. Dengan demikian, secara umum merokok itu tidak boleh. Akan tetapi, Indonesia sendiri menjadi negara yang “terbelakang” di ASEAN dengan masih labilnya keputusan legalitas rokok. Pemerintah Indonesia seolah tarik ulur terkait kebijakan merokok. Memberikan larangan, namun juga masih membebaskan perusahaan rokok mengepakkan sayap di Indonesia.

Pemerintah, termasuk juga lembaga yang memiliki hak mengeluarkan fatwa, masih saja tampak bimbang dengan ketentuan haram tidaknya merokok. Entah karena kepentingan beberapa pihak, kekhawatiran akan kerugian finansial dari hilangnya produk tembakau dari pasar Indonesia, atau hanya karena beberapa pengambil keputusan kebijakan sendiri yang  juga belum siap lepas dari kegiatan merokok.

Sikap negara tersebut pada akhirnya tercermin pula pada sikap masyarakat terhadap rokok. Masih banyak restoran dan rumah makan yang masih menyediakan tempat khusus perokok. Bahkan ada yang menyediakan asbak di atas meja makan. Memang benar, hal tersebut adalah bentuk sikap menghargai dan menghormati pelanggan yang memiliki kebiasaan merokok sekaligus upaya untuk mendapatkan lebih banyak pelanggan. Namun jika dibiarkan, hal tersebut dapat menghambat upaya dalam mengurangi konsumsi rokok dan justru “mempersilakan” perokok untuk terus merokok secara bebas.

Sedangkan dari pihak penyedia rokok, himbauan untuk mencantumkan risiko akibat merokok di bagian bungkus rokok telah dilakukan. Tak hanya dicantumkan mengenai risikonya saja, tetapi juga dilengkapi dengan ilustrasi gambar yang cukup mengerikan. Sebab menurut PP 109/2012, dalam bungkus rokok harus mencantumkan peringatan kesehatan dalam bentuk gambar dan tulisan. Namun sebaliknya, iklan rokok di media elektronik justru menampilkan drama keseruan dengan mengatasnamakan merk produk yang justru menggugah penonton untuk mengonsumsi produk tersebut.

Memang benar, penjualan rokok menyumbang devisa yang cukup besar bagi negara. Akan tetapi, pemerintah juga harus mempertimbangkan dampak buruk rokok bagi kesehatan masyarakat, kematian akibat merokok, dan kerugian akibat kematian tersebut. Terlebih lagi, rokok dapat memperparah kemiskinan sebab pecandu rokok yang berada dalam kalangan kurang mampu condong mengutamakan rokok daripada makan sehari-hari dan bahkan meningkatkan konsumsi rokok untuk relaksasi diri dari tekanan hidup.

Negara harus melawan ancaman bahaya tembakau dan harus melindungi kesehatan warganya. Pelarangan rokok harus dilaksanakan demi tujuan tersebut walaupun dilakukan secara bertahap dan perlahan-lahan. Hal ini dapat dimulai dengan pelarangan iklan rokok di media elektronik dan mulai membatasi penjualan rokok di tempat-tempat seperti warung kelontong. Di Hari Internasional Anti Tembakau ini, setidaknya pemerintah mampu memberi kejelasan mengenai larangan merokok terhadap kesehatan masyarakat yang semakin terancam.

Oleh: Sesty Arum P
Penyunting: Muhammad Rakha Rambe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here