Para volunteer melakukan long march sambil bernyanyi© 2017 Neraca Cinta Dzilhaq/Bul

Menyambut ‘Schizophrenia Awareness Day’: Sebuah Catatan Mahasiswa Psikologi

Ketika beberapa waktu yang lalu Indonesia dihebohkan dengan kasus bunuh diri dosen ITB, serta apabila kita menarik sedikit ke belakang, saat kasus bunuh diri di Facebook menjadi viral, para psikolog—termasuk para mahasiswa psikologi—pun langsung merasa terpanggil karenanya. Tak pelak, sejumlah posting-an di media sosial mengenai “Indonesia Darurat Kesehatan Mental” pun semakin tajam menguraikan diri. Namun, bunuh diri sebetulnya bukan masalah yang baru bagi masyarakat kita bila harus berbicara soal kesehatan mental.

Skizofrenia, salah satu penyakit mental yang sulit untuk disembuhkan, selayaknya turut menjadi perhatian kita. Skizofrenia menurut Cambridge Dictionary of Psychology (2009) adalah sebuah penyakit kelainan mental yang ditandai dengan berbicara tidak beraturan, gangguan pada perilaku, serta berefek pada munculnya delusi dan halusinasi. Delusi—juga disebut waham—berarti munculnya pikiran yang tidak benar atau tidak rasional, sementara halusinasi berarti sebuah pemahaman tentang sesuatu yang dianggap nyata, padahal sebetulnya tidak nyata. Orang yang mengidap skizofrenia bisa salah dalam melakukan hal-hal kecil, seperti menyikat gigi, memasang kancing baju, serta tak mudah bergaul dengan lingkungan. Dilansir oleh Michael Bengston dalam PsychCentral (2016), penyakit ini memiliki beberapa tipe. Yang pertama, tipe paranoid, ditandai dengan kuatnya waham dan halusinasi, serta sewaktu-waktu bisa marah tanpa sebab. Yang kedua, tipe disorganized atau hebrefenik, di mana pengidapnya akan kesulitan berbicara dengan jelas dan sukar mengerjakan aktivitas sehari-hari. Tipe ketiga adalah tipe katatonik, di mana pengidapnya mengalami kondisi pengurangan aktivitas, yang menyebabkan dirinya mampu bertahan duduk atau berdiri dalam posisi tertentu untuk waktu yang lama, tanpa bergerak sedikit pun, dengan ekspresi yang datar.

Proses edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat

Sebuah aksi nyata diperlukan untuk mengedukasi masyarakat sekaligus memberi dukungan pada orang-orang dengan skizofrenia, seperti yang dilaksanakan oleh mahasiswa Psikologi dari berbagai angkatan pada hari Minggu, tanggal 21 Mei 2017 lalu. Ketika hari masih baru merekah, sejumlah mahasiswa dari Lembaga Mahasiswa Fakultas Psikologi UGM maupun para volunteer bersiap-siap dengan pakaian serba putih dan pita perak. Mereka berkumpul dahulu di Taman Cinta, sebuah petak hijau di timur fakultas yang masih sepi, sambil membagi-bagikan arem-arem dan kue sus sebagai pengganjal perut sebelum melakukan aksi menyambut peringatan Schizophrenia Awareness Day (SAD) yang jatuh pada tanggal 24 Mei. Acara ini bertajuk Schizo’s Friend, yang bisa diartikan sebagai kepedulian terhadap penderita skizofrenia sebagai seorang ‘teman’ yang siap membantu. Khoiriyyatun Nisa, yang akrab disapa Icha (Psikologi ’15), melalui pernyataannya tentang kampanye Schizophrenia Awareness Day, mengatakan, “Urgensi kita untuk memperingati Schizophrenia Awareness Day sebetulnya untuk memperkenalkan skizofrenia itu apa, sih, di masyarakat… kan, banyak banget orang yang belum ngerti, gitu, tentang skizofrenia, jadi kita lebih pengen bagi-bagi.” Icha juga menjelaskan, kampanye yang dilaksanakan tanggal 21 Mei 2017 tersebut berupa long march dari Jl. Abu Bakar Ali menuju depan Ramayana Mall atau Hotel Mutiara. Dalam kampanye tersebut, para volunteer menyuarakan suatu imbauan pada masyarakat melalui lagu dan tagline. “Sambil bawa poster. Nanti ada twibbon juga kalo mau foto,” timpal Icha.

Balon dan pita perak adalah simbol kepedulian

Seorang volunteer bernama Sarah (Psikologi ’15) merasa senang dan mendukung aksi ini. “Karena saya juga seorang mahasiswa Psikologi,” ujarnya. “Menurut saya, masyarakat awam itu belum paham apa itu skizofrenia dan cara penanganannya kayak gimana. Bisa berpartisipasi di acara ini juga merupakan sebuah bentuk pengenalan masyarakat tentang skizofrenia seperti apa.” Sementara dua volunteer lain, Sekar (Psikologi ’16) dan Chan (Psikologi ’16) memberi alasan lain tentang keikutsertaan mereka.

“Aku, karena sepertinya menarik, terus belum pernah ikut kegiatan fakultas,” ujar Sekar.

Kalo aku kurang lebih sama, cuma kalo skizofrenia itu… apa, ya… topik yang kalau di Psikologi itu salah satu yang paling urgent, gitu, jadinya menarik aja, ya, campaign kayak gini-gini,” ungkap Chan.

Sekar dan Chan juga berharap kampanye yang dilakukan bisa mengedukasi masyarakat. “Siapa tahu nanti di sana kita bertemu dengan orang yang… mungkin… keluarganya ada yang skizofrenia. Kan, kita nggak pernah tahu. Paling nggak kita bisa ngasih edukasi aja buat mereka,” ujar Chan.

Kalau Anda bertanya pada saya tentang alasan saya memilih topik skizofrenia untuk opini kali ini, saya akan menjawab persis seperti pertanyaan seleksi volunteer kampanye SAD yang saya ketik. Sederhana. Saya sering melihat penggambaran skizofrenia sebagai sesuatu yang mengerikan di film, atau malah menakjubkan. Salah satunya di serial Legion, di mana seorang mutan pengidap skizofrenia bernama David berusaha mati-matian mengalahkan penyakitnya tersebut. Tipe skizofrenia yang diderita David adalah tipe paranoid, dan ia terus menerus mendapatkan penglihatan tentang seorang pria gemuk yang menakutkan, seorang bocah bertopeng, dan seorang wanita bernama Lenny. Ia menghabiskan hampir separuh hidupnya di rumah sakit jiwa gara-gara penyakit mentalnya itu sewaktu-waktu bisa kambuh. Jika Anda belum pernah menonton Legion, saya akan menyarankan Anda menontonnya, karena dari delapan episode yang mengaduk-aduk pikiran, kita akan melihat dunia dari mata sang tokoh utama, David. Atau coba tonton A Beautiful Mind, film lawas tentang seorang ahli matematika, John Nash, yang menderita skizofrenia tetapi masih bisa menggunakan sisi kognitifnya untuk bertahan hidup. Penggambaran-penggambaran dalam film adalah potret dari kenyataan yang dilapisi oleh imajinasi. Tetapi tanpa film-film tersebut, kita tak bisa membayangkan seperti apa rasanya hidup sebagai seorang skizofren.

Hm, sepertinya saya sudah semakin keluar konteks, bukan? Jadi, sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengucapkan Happy Schizophrenia Awareness Day untuk seluruh rakyat Indonesia. Skizofrenia bukan berarti mereka yang mengidapnya harus dikurung, diejek, di-bully, disiksa dengan pasung, atau bahkan diasingkan oleh keluarga mereka sendiri. Intinya, bila kita menemukan saudara, teman, atau kerabat kita yang menderita skizofrenia—kendatipun mereka bukan seorang mutan seperti David atau profesor brilian seperti John Nash—ingatlah tiga hal penting ini: kenali cirinya, pahami tindakannya, jangan jauhi dirinya.


Sumber:

Oleh: Neraca Cinta Dzilhaq
Penyunting: Hanum Nareswari