ArtJog 4© 2017 Trishna Wulandari/Bul

Menikmati Seni Rupa di Pembukaan #ArtJog10

Malam itu, jalan menuju Jogja National Museum (JNM) nampak ramai, samping kiri dan kanan jalan tersebut penuh dengan mobil yang parkir. Terlihat beberapa warga berdiri di pinggir jalan menawarkan pada pengendara motor yang lewat untuk parkir di lahan yang mereka sediakan. Sekilas dari luar, terlihat lahan parkir dadakan tersebut telah terisi sebagian.

Malam itu juga tak seperti biasanya. Halaman JNM yang berada di Jl Prof Ki Amri Yahya No.1 Gampingan Wirobrajan penuh sesak dengan pengunjung. Mereka datang untuk menikmati pembukaan event seni tahunan ARTJOG yang kali ini telah genap berusia 1 dekade.

Pada upacara pembukaan, pengunjung pertama-tama disuguhi oleh musik instrumental perpaduan antara harpa dan beatbox yang dilengkapi dengan gerak lincah para penari latar. Para pengunjung pun khidmat menikmati pertunjukan itu meski tidak semua bisa menikmati nyamannya bangku yang disediakan panitia. Ada yang menikmati pertunjukan dengan berdiri, pun ada yang menikmatinya sembari duduk a la warung makan lesehan. Meski begitu, semua dengan sabar mengikuti upacara pembukaan sambil berharap waktu untuk bisa masuk ke venue utama pameran segera tiba.

Seperti acara pembukaan pada umumnya, pembukaan ARTJOG 10 diisi dengan sambutan-sambutan. Selain sambutan dari CEO ARTJOG, Hari Pemad, sambutan juga diberikan oleh GKR Mangkubumi yang hadir mewakili Gubernur DI Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono X. Namun, tidak hanya berisi sambutan, sesi pembukaan ini juga diisi dengan pengumuman pemenang Youth Artist Award (YAA), sebuah ajang penghargaan bagi seniman yang berusia di bawah 33 tahun. Berdasarkan penilaian para juri, YAA kali ini dimenangkan oleh Bagus Pandega dan Syaiful A.

Setelah melalui beberapa acara seremonial, akhirnya tiba waktunya bagi pengunjung untuk masuk ke ruang pameran. Para tamu undangan, yang didalamnya termasuk Duta Besar Argentina, Meksiko dan Belgia, mendapat giliran awal untuk masuk ruang pameran. Setelah itu barulah para tamu nonundangan bisa masuk secara bergiliran, meski harus melewati antrian yang cukup panjang terlebih dahulu.

Sebenarnya, ketika masuk halaman JNM para pengunjung telah disuguhi oleh salah satu karya seni yang dipamerkan oleh ARTJOG. Karya seni tersebut berjudul “floating eyes” karya Wedhar Triyadi. Seperti namanya, karya seni ini berwujud mata dalam jumlah banyak yang mengambang di atas kolam. Saran saja, harap waspada ketika hendak memasuki area utama pameran, karena kolam-kolam tersebut, jika pengunjung tidak jeli, akan nampak seperti lantai biasa yang berwarna hitam. Sehingga jika sedang sial, bisa saja pengunjung masuk ke venue utama dengan sepatu yang basah.

 

Setelah masuk dalam venue utama, pengunjung disuguhi karya seni beragam yang memiliki makna khusus sesuai dengan tema besar ARTJOG tahun ini, “Changing Perspective”. Karya berjudul “Silent Prayers” buatan Mulyana Mogus misalnya.  Ia mencoba untuk menghadirkan definisi dari untaian doa-doa yang dihaturkan kepada Yang Kuasa, dengan sebuah purwarupa berwarna putih yang sekilas berbentuk seperti terumbu karang di laut. Lalu sebagai hiasan, purwarupa tersebut dihias dengan lampu-lampu.

Ada juga karya dari Joko Dwi Avianto yang berwujud “Pressed”. Karya tersebut memiliki wujud berupa sebuah mesin tekan yang terbuat dari baja berwarna jingga, yang menekan, menghacurkan bambu-bambu yang ada di bawahnya. Karya tersebut berdasarkan keterangannya menggambarkan sifat manusia yang selama ini berusaha untuk mengatur alam, sesuai dengan keinginanya, meskipun sebenarnya alam memiliki aturan dan perilaku sendiri.

Jika Joko Dwi Avianto ingin menunjukkan keserakahan manusia, maka Hendra Priyandhani ingin menunjukkan keterikatan antara manusia dan busana yang dipakainya. Dalam karyanya yang berjudul “Fashion as a Weapon” ia mencoba untuk memberi pengertian kepada pengunjung bahwa pakaian yang dipakai oleh setiap orang merupakan media yang dapat menggambarkan si pemakai. Busana, berdasarkan Hendra, juga dapat memperkuat image pemakai di mata publik. Untuk menyampaikan pesan ini Hendra memvisualisasikannya dengan menampilkan sebuah purwarupa berwarna jingga yang memiliki pose-pose khas relief candi yang menceritakan Epos Ramayana atau Mahabharata. Bedanya ia memasukkan unsur busana kekinian dalam karyanya.

Pengunjung juga dapat menikmati karya berbentuk foto, seperti karya dari Wimo Ambala Bayang dalam “Depiction of Pengantin Tissue” yang ingin menunjukkan caranya untuk memandang segala sesuatu dari berbagai sisi dan berbagai sudut pandang. Dalam karya foto tersebut ia menampilkan sebuah foto pengantin yang menunjukkan peran wanita dalam budaya partriaki.

Selain “Depiction of Pengantin Tissue” ada pula “Seri Kematian Para Pelantun”. Foto-foto karya Edwin “Dolly” Roseno Kurniawan tersebut merupakan sebuah penghormatan atas burung-burung yang mati dan dibuang akibat keserakahan manusia. Dalam foto tersebut Edwin tampak ingin menunjukkan penghormatan kepada burung-burung yang telah mati dengan mengombinasikan mayat burung dengan hiasan kembang tujuh rupa dan minyak wangi yang lekat hubungannya dengan upacara kematian.

Karya-karya pada ARTJOG 10 tidak hanya sebatas pada apa yang telah disebutkan pada baris-baris kalimat yang dibaca tadi. Masih banyak karya lain yang bisa dinikmati oleh para pengunjung dari banyak seniman baik lokal maupun internasional, seperti Inggris, Filipina, Malaysia, Jerman, Canada, Cina, dan Singapura.

Selain menampilkan karya seni, ARTJOG 10 juga dilengkapi dengan kedai-kedai makanan yang siap melayani pengunjung yang lapar. Ada merchandise store yang menyediakan pernak-pernik khas ARTJOG 10 yang dapat dibeli sebagai kenang-kenangan. Pengunjungpun tidak perlu khawatir dilanda kebosanan karena setiap harinya akan ada live music performance yang siap menghibur para pengunjung selepas menikmati karya seni yang ada. Pada pembukaan kemarin, live music performance ARTJOG 10 menghadirkan Doctor and The Professor featuring Sruti Respati dan Astrid Kusumawardhani.

Doctor and The Professor sukses menghibur penonton dengan lantunan musik jazz ditambah suara merdu dan lagu-lagu hits milik dr Tompi. Malam itu, seperti penampilan-penampilan khas dr. Tompi yang lain, semua orang tampak menikmati dan kagum dengan suara merdunya serta kemampuannya untuk membunyikan melodi-melodi lagu dengan mulut, freestyle khas drTompi. Lantunan lagunya, macam “Menghujam Jantungku” dan “Selalu Denganmu” sukses mengalahkan ego penonton sehingga, meski tanpa diminta, penonton ikut mengiringi dr Tompi bernyanyi. Sisi humor para penampil pun ikut menghilangkan lelah, jenuh, stress, dan hal-hal buruk lain yang menyertai. Penonton tertawa akan gimmick-gimmick lawak yang dibuat oleh dr. Tompi dkk di atas panggung.

Sebenarnya, penampilan malam itu bukanlah murni penampilan musik jazz. Karena saat itu Sruti Respati sukses menyisipkan kesan tradisional dalam kemewahan jazz lewat lantunan sinden indah miliknya. Hari itu Sruti tampil cantik dalam outfit kebaya berwarna putih. Penampilan mereka semakin lengkap dengan adanya Astrid. Sebagai penari, yang tampil dalam balutan gaun berwarna merah, mampu menghibur penonton lewat lenggak-lenggoknya di atas panggung, memberikan perspektif visual dari lagu yang dinyanyikan.

Acara pembukaan pada malam ke 19 dari bulan Mei itu boleh saja berakhir, namun ARTJOG akan hadir menemani para pengunjung hingga sebulan penuh, tepatnya sampai 19 Juni 2017. Ragam karya seni berkualitas, live music performance¸ dan begitu besarnya antusias masyarakat dalam menyambut acara ARTJOG, menunjukkan bahwa acara ini merupakan sebuah alternatif bagi para pecinta seni untuk istirahat sejenak, berhenti dari target-target harian, lalu menikmati seni dan mempelajari perspektif-perspektif baru dalam hidup.

Oleh: Hafidz Wahyu Muhammad/Bul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *