Aksi Menolak Rasisme dan Sentimen Agama

Aliansi Merapi menginisiasi tindakan menyalakan lilin bersama yang diikuti oleh berbagai elemen masyarakat di Yogyakarta. Meski sempat terjadi kericuhan, namun aparat berhasil mengondisikannya dari awal hingga akhir.

Aksi yang digelar di Tugu Jogja pada Rabu (10/5) secara garis besar bertujuan untuk menolak rasisme dan sentimen agama yang sedang menjadi isu nasional. Menurut keterangan Erwin (salah seorang peserta), aksi ini diinisiasi oleh Aliansi Merapi melalui pesan berantai yang disebarkan di media sosial. Peserta aksi lain  mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu dukungan moril kepada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dijatuhi hukuman penjara selama dua tahun atas tindak pidana penistaan agama. “Selain sebagai dukungan moril, ini (aksi, -red) juga bertemakan pancasila supaya kita memegang teguh ideologi pancasila,” ujar Eli, salah seorang peserta.

Berdasarkan keterangan dari koordinator, Pedro, aksi dimulai pada pukul 19.00 WIB dengan menyalakan lilin, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, pembacaan pernyataan, dan ditutup dengan menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Adapun pernyataan yang dibacakan adalah sebagai berikut.

  1. Menolak rasisme.
  2. Menolak sentimen keagamaan.
  3. Menuntut independensi hukum menjadi pilar utama penegakan keadilan.

Kegiatan yang rencananya berlangsung hingga pukul 21.00 WIB ini bubar sekitar pukul 20.00 akibat adanya serangan berupa pelemparan bahan peledak ke arah massa dari pihak yang belum diketahui identitasnya. Meski demikian, menurut Erna (anggota Aliansi Merapi) seluruh kegiatan yang direncanakan telah dijalankan. “(Aksi ini berakhir) jam sembilan sih seharusnya, tapi itu tadi yang kami butuhkan, kami menyanyikan lagu, nggak ada orasi. Sudah,” ungkapnya.

Terkait dengan penyerangan, Erna mengatakan bahwa ia dan tim sudah memperhitungkan risikonya. “Tadi sore sudah mulai diteror, broadcast via Whatsapp, Facebook dan sebagainya. Tapi kami tidak gentar. Kami hanya ingin penanaman kesadaran akan pentingnya merawat kebhinekaan. Pada dasarnya kami hanya mengetuk pintu hati mereka yang selama ini diam, silent majority bahwa sudah waktunya kita berbicara. Kita harus tetap berani menyampaikan kebenaran, tetap menyuarakan ketidakadilan,” jelasnya di tengah aksi berlangsung.

Pembubaran aksi yang sempat mengalami kericuhan ini menuai komentar dari masyarakat sekitar. Nilam sebagai warga sekitar Tugu menyayangkan pembubaran aksi yang menurutnya kurang manusiawi. “Ini bukan masalah pri-kemanusiaan tentang Ahok, tapi tentang kebhinekaan. Bapak saya juga muslim, saya katolik, tapi kami saling menghargai. Tapi kalau seperti ini, saya anggap ini inhuman untuk kita semua,” tutur Nilam. Ia juga menyayangkan tindakan pennyerangan yang diduga berkaitan dengan pesan yang disebarkan oleh M. Fuad Andreago di jejaring sosial Facebook pada pukul 04.51 WIB yang berbunyi “Memerintahkan kepada seluruh Laskar Islam untuk bersiaga membubarkan acara biadab di Tugu nanti malam jika terbukti acara tersebut tidak memiliki izin dan terindikasi melecehkan Islam atau ulama kita.”

Oleh: Fatimatuz Zahra/Bul
Penyunting: Hadafi Farisa R

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here