Peringatan 2 Mei: Aksi Nyata atau Maya?

Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei selalu memiliki sisi menarik.  Jika tahun lalu UGM menggelar aksi yang dihadiri ribuan mahasiswa di rektorat, tahun ini 2 Mei menjadi aksi tagih janji atas tuntutan aksi setahun silam. Aksi ini diawali dengan berbagai diskusi, panggung aspirasi, kajian, hingga propaganda, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Berbagai opini beserta tagar #resahmuresahku, sepekan ini ramai muncul di linimasa. Opini dan postingan ini menjadi salah satu bagian dari propaganda sebelum aksi dimulai. Aksi yang akhirnya terlaksana ini terdiri dari mahasiswa berbagai fakultas yang memadati Balairung untuk menyampaikan tuntutan kepada rektorat. Meski kecewa karena absennya rektor untuk menemui massa, aksi tetap dilanjutkan.

Aksi 2 Mei di UGM yang memiliki kajian panjang ini memiliki enam tuntutan, salah satunya adalah penggolongan UKT yang dirasa tidak wajar. Tetapi, apakah semua massa yang turut terjun ke lapangan memahami keresahan yang menjadi tuntutan ini? Jika tidak, yang diperjuangkan tersebut hanya sekadar mengikuti tren media sosial atau benar-benar menuntut keadilan? Tidak sedikit mahasiswa yang hanya modal ikut-ikutan dan mengikuti euforia aksi ini, yang pada akhirnya hanya berujung pada update di media sosial.

Aksi di dunia maya yang dilakukan saat ini dianggap lumrah karena kita memang hidup di zaman digital. Akan tetapi sungguh disayangkan jika tujuannya untuk mencari popularitas semata. Perjuangan aksi di dunia maya seakan menjadi tanda tanya, mencari jumlah viewers atau memang menggunakannya untuk propaganda.

Masing-masing sibuk dengan layar ponselnya ketika orasi tengah berlangsung agar dapat update instagram live atau instagram story. Mungkin cara ini juga menjadi salah satu jalan untuk menggerakan massa agar ikut serta dalam aksi. Keberadaan dunia maya seakan menjadi dua sisi yang berbeda, aksi nyata untuk membela kepentingan mahasiswa, atau pun aksi maya untuk mengejar label agar dicap sebagai mahasiswa yang aktif.

Kembali pada diri sendiri, tiap individu memiliki cara yang berbeda untuk melakukan aksi di Hari Pendidikan ini. Mulai dari negosiasi dengan petinggi universitas, beropini dan berorasi, mengikuti kelas, praktikum, menyumbangkan gambar di media sosial, hingga ada yang tidak peduli. Entah nyata atau maya, aksi 2 Mei menjadi suatu bukti bahwa ada sesuatu yang sedang diperjuangkan di kampus yang katanya kerakyatan ini. Apapun bentuknya, tuntutan aksi mahasiswa semoga berakhir dengan keputusan yang diharapkan, meski masih menunggu penandatanganan beberapa dekanat fakultas yang belum ikut menyetujui.

Oleh: Larasati P.N.
Penyunting: Hanum Nareswari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here