Panggung Kedua, Untuk Sandiwara Kedua

 “Fondasi pertama bagi terciptanya otoritas, adalah popularitas”

-Adolf Hitler-


Orang-orang Inggris terkenal di seluruh pelosok dunia karena prinsip politiknya. Sebuah prinsip politik yang andal dalam menyembunyikan kelakuan buruk di balik tirai moralitas. Mereka terbiasa melakukannya selama berabad-abad, hingga pada akhirnya lupa dan terbawa arus politik moralitas yang semu, masih diperburuk dengan tingkah mereka yang seolah-olah memposisikan diri sebagai “contoh” dalam kebajikan. Tertelan dalam hipokrisi, mereka seolah keasikan dengan gaya mereka sendiri yang pada akhirnya mengorbankan bangsa lain. Tentu itu menjadi hal yang sangat menghibur untuk dilihat, tetapi terlalu berbahaya untuk dibiarkan[1].

Tulisan di atas adalah penggalan dari sebuah pidato yang dituliskan oleh Menteri Propaganda dan Penerangan Jerman pada Perang Dunia ke-2. Tulisan tersebut ditujukan kepada Inggris pasca deklarasi perang pada 3 September 1939.

Penggalan pidato di atas adalah analogi yang penulis pilih dalam memahami dinamika perjuangan mahasiswa UGM yang revolusioner dalam memperjuangkan hak pendidikan. Tak luput saya mengucapkan selamat berperan serta dalam upacara 2 Mei. Ya, upacara. Karena mahasiswa revolusioner senang dengan perihal yang melibatkan mobilisasi massa, spectacle dan grand rally dari kekuatan populis. Tenggelam dalam romantisme ideologi kiri yang pada akhirnya hanya ingin terus menyebarkan jargon revolusi, tanpa memahami esensi revolusi itu sendiri. Kesuksesan dari 2 Mei 2016 makin membutakan rasionalitas ranah advokasi mahasiswa, yang pada akhirnya mengubah konteks dan substansi 2 Mei menjadi acara seremonial. Lalu, izinkan saya untuk mengusulkan agar 2 Mei tidak hanya diperingati sebagai hari pendidikan nasional, namun juga sebagai hari akbar berkumpulnya mahasiswa UGM untuk mempraktikkan kebebasan “mimbar” akademik.

Saya masih ingat dengan jelas kenangan 2 Mei 2016. Kala itu kawasan rektorat sangatlah ramai, dan perjuangannya memang jelas menunjukkan urgensi dan keresahan keluarga civitas secara keseluruhan. Ada pegawai yang memperjuangkan Tukin (Tunjangan Kinerja) dan juga mahasiswa yang mengusung isu Bonbin dan UKT. Saya pun bisa mengapresiasi dan terdorong untuk berpartisipasi. Walaupun tidak berteriak bagaikan seorang revolusioner, bagi saya hadir dan berdiri dengan tenang sembari mengenakan almamater sudah cukup. Saya hanyalah mahasiswa pendiam yang cuma bisa melihat, maka hinalah saya karena apatisme dan ketidakacuhan saya. Tapi mohon diperhatikan, satu hal saja. Saya diam, bukan berarti tidak peduli. Saya tetap bisa merasakan simpati lebih jauh lagi empati. Namun diam saya menandakan bahwa saya berbicara dalam bahasa yang berbeda, tidak seperti teman-teman progresif lainnya.

Sayangnya, hal yang sama tidak bisa saya katakan untuk aksi “replay” 2 Mei esok hari. Atmosfirnya berbeda, serta substansi dan arah geraknya yang gegabah. Lokus, serta fokusnya tidak dapat saya pahami. Entah kenapa yang sangat bersemangat dalam menyuarakan 2 Mei, orangnya “itu-itu lagi”. Saya percaya bahwa dalam aksi esok, individu dengan niatan tulus akan tetap ada. Namun sebagai manusia rasional, saya bosan dengan realita bahwa memang pasti akan ada pihak yang berdagang politik. Sehingga saya lost faith dengan 2 Mei. Manakala 2 Mei berhasil menunjukkan keberhasilannya, aktor politik kampus seolah ketagihan dengan peristiwa tersebut dan mencoba mengulangnya. Tentu dengan harapan agar kebagian spot light. Alasan ini bukan berdasar tuduhan mentah, karena berkaca pada aksi 2 Mei yang lalu, aktor-aktor politik mahasiswa secara tidak langsung mencoba untuk saling rebut klaim atas kredit dan kontribusi mereka dalam aksi tersebut.

Hal lain yang perlu digaris bawahi adalah political marketing dari aksi 2 Mei. Saya sebagai mahasiswa turut prihatin dan mendukung perjuangan teman teman FKG dalam meraih keadilan. Hal yang sama juga patut saya sampaikan untuk teman teman SV. Mendengar istilah SV, saya turut menyesalkan dan marah dengan “teman-teman” arsitek 2 Mei tempo lalu. Masih segar di ingatan saya, bagaimana para korlap dengan pengeras suara “menjual” seorang teman mahasiswi dari SV yang memiliki kisah sedih. Ia terpaksa menjual rumahnya demi memenuhi tuntutan biaya kuliah. Saya tentu sedih dan turut mempertanyakan sistematika UKT. Namun, eksploitasi materialistik yang dilakukan tokoh–tokoh kunci mahasiswa 2 Mei seolah merendahkan derajat seorang manusia. Teman teman revolusioner sepertinya sangat senang memaknai istilah kerakyatan melalui sudut pandang materiil. Namun, saya memiliki perspektif lain bahwa kerakyatan itu sangat fluid, dan sangatlah salah ketika memaknai kerakyatan hanya dari segi finansial . . . yaitu uang.

Seorang petugas SKKK pernah berbincang asik dengan saya. Beliau menyesalkan perubahan sikap pada mahasiswa yang kurang bisa mendekatkan diri dengan pegawai kampus. Terkadang, obrolan santai dan sapaan selamat pagi terhadap petugas dan pegawai kampus mampu menghasilkan senyum bagi mereka. Dan menurut saya, mampu menyatukan diri dengan elemen seperti ini adalah bentuk lain dari praktik konsep kerakyatan. Jadi secara etika, terkadang menurut saya cukup hipokrit ketika teman teman progresif menunggangi pegawai dengan isu Tukin untuk dimajukan dalam aksi “Pesta Rakyat”, tetapi pada kehidupan sehari hari, mayoritas mahasiswa seringkali memposisikan diri diatas pegawai kampus. Pegawai kebersihan adalah pegawai outsourcing, sama halnya dengan SKKK (walau tidak semua). Sudah menjadi kewajiban bagi mahasiswa untuk membela mereka ketika mereka tidak mampu menyuarakan kepentingannya. Namun perlu diingat, mereka adalah manusia pekerja keras. Mereka paham kerasnya hidup dan sulitnya mencari pekerjaan. Meski begitu, akan tiba masa di mana ranah advokasi bergeser menjadi eksploitasi politik dengan sudut pandang materialistik. Mahasiswa menunggangi keresahan pegawai sekedar sebagai pelengkap rasa dan peramai “Pesta Rakyat” pada tanggal 2 Mei, yang secara tidak langsung memberi kesan merendahkan dan bahkan menghina kerja keras para gentle labourer. Mereka memang membutuhkan bantuan. Namun, membela golongan dengan azas seperti itu sama saja merendahkan kemampuan rakyat dan kerakyatannya yang hanya dipandang dari segi finansial. Selain memberi kesan “menunggangi”, hal tersebut sama saja dengan mengebiri kemandirian kaum pekerja dan menghina determinasi perjuangan mereka demi mengokohkan peran intelektual.

Lalu, untuk teman teman FKG dan Vokasi, saya yakin kemampuan kalian lebih dari mampu untuk memperoleh keadilan, percayalah dengan kekuatan persatuan fakultas kalian. Jangan sampai mahasiswa-mahasiswa revolusioner kiri mengeksploitasi kalian sama halnya dengan para pekerja dan staf kampus ketika pesta rakyat berlangsung. Bersatu dan berjuang bersama adalah hal yang rasional. Namun, akan menjadi salah, ketika salah satu dari kalian maju bersama sembari berlindung di balik badan teman kalian. Saya tidak mengatakan bahwa 2 Mei adalah cara yang salah. Namun, yang kadang tidak terpikirkan oleh mahasiswa “doyan ribut” adalah konsekuensi di masa yang akan datang, serta implikasinya bagi gerak juang mahasiswa itu sendiri. Untuk mahasiswa dengan jurusan dan fakultas yang “dewasa”, tidak akan jadi masalah. Seusai aksi, mereka bisa kembali dengan tenang ke fakultasnya. Melepas dahaga dengan minum-minuman segar di kantin sembari membicarakan kesuksesan aksi yang ramai, ditemani dengan sebatang rokok untuk mengkhidmatkan suasana.

Hal yang sama tidak bisa dikatakan untuk mahasiswa fakultas lain. Seusai aksi, mereka pulang ke fakultas masing-masing sembari menanti penghakiman oleh pihak fakultas. Belum tuntas dengan melepas lelah, mereka sudah masuk “hit-list” fakultas. Dan bagi saya, aksi solidaritas untuk teman teman FKG hanya memberi dukungan moril, namun tidak menyelesaikan masalah. Semua seolah mau membantu, tetapi pada akhirnya tetap teman-teman FKG sendiri yang menanggung konsekuensi perlawanan. Ke mana teman-teman yang berteriak membela kalian?  Bagi saya, teman teman FKG telah masuk ranah politisasi isu gerakan mahasiswa 2 Mei. Jikalau memang teman-teman kalian sepakat membantu FKG, seharusnya mereka serentak juga memperbaiki “rumah” sendiri, yakni fakultas masing-masing. Menunjukkan bahwa permasalahan UKT menjadi risalah universal yang dihadapi semua fakultas. Namun nyatanya tidak, risalah FKG menjadi sebuah pola dari 2 Mei yang terulang kembali. Perbedaannya hanyalah kalau dulu SV, kini FKG. Semua maju, berlindung di balik FKG.

Perjuangan teman-teman FKG bukan sekadar permainan, wahai mahasiswa progresif-revolusioner. Bukan sebagai pencapaian politik yang bisa jadi bahan obrolan untuk meromantisasi gerakan massa di tingkat pelajar. Bukan juga untuk menjadi bahan doktrinasi kepada para mahasiswa baru agar bisa melegitimasi rezim anda. Namun, masa depan sahabat FKG menjadi taruhannya. Jika memang perjuangan kalian menuntut keadilan, mengapa harus menunggu 2 Mei? Perjuangan dan idealisme tidak kenal waktu. Bila anda mengatakan bahwa 2 Mei adalah momentum yang tepat, maka izinkan saya untuk mengatakan: “Selamat! Memperjuangkan pendidikan haruslah menunggu Hari Pendidikan.”  Mungkin alasan mengapa dibilang tepat adalah: simbolisasi pendidikan yang hadir pada 2 Mei sebagai Hari Pendidikan nasional. Tapi tidak juga. Menurut saya 2 Mei menjadi tren strategi mobilisasi massa di kalangan mahasiswa karena keberhasilannya di tahun yang silam. Think-tank nya sama . . . Aktor mobilisatornya sama . . .

Tinggal ini semua kembali kepada masing masing mahasiswa dalam mencerna perspektif yang saya miliki. Karena terkadang saya bingung . . . Individu tanpa legitimasi apapun bisa mengklaim pencapaian personal untuk mewakili sebuah fakultas dan asosiasi mahasiswa. Saya yakin teman-teman mahasiswa bisa menyikapi tulisan ini dengan bijak. Hak masing-masing pembaca untuk menentukan sikap dalam aksi 2 Mei yang akan digelar esok. Tidak masalah apabila anda mengklaim tulisan ini sebagai upaya penyebar kebencian atau bentuk apatisme seorang mahasiswa. Karena teman kalian menuntut kebebasan akademik, dan ini adalah salah satu bentuk kebebasan akademik. Mumpung saya masih bisa nulis, sebelum teman-teman progresif menciptakan rezim lain yang dapat membungkam opini yang berseberangan dengan keyakinan mereka.

Oleh: Alif Umodami
Penyunting: Hanum Nareswari


[1] “Die abgehackten Kinderhände,” Die Zeit ohne Beispiel (Munich: Zentralverlag der NSDAP., 1941), pp. 181-187.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here