Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. : “Rektor Harus Berpikir Besar Bertingkah Detail”

“Saya ingin berbakti, juga berkontribusi lebih untuk UGM.” Begitu kata Panut Mulyono ketika ditanya mengenai alasan maju menjadi calon rektor. Baginya mengurusi hal-hal yang detail juga penting untuk menjadi pemimpin yang baik. Dalam kesempatan kali ini, beliau juga bercerita tentang program dan cita-citanya tentang UGM.

Apa alasan bapak mau diusung menjadi calon rektor oleh rekan-rekan ?

Alasannya bahwa ada kesempatan dan suksesi rektor, rekan-rekan dan saya sendiri merasa bahwa apabila kita punya kesempatan kenapa kita tidak mengikuti prosesnya. Selain itu karena saya pernah merasakan kepengurusan pengelolaan di tingkat fakultas, dari wakil dekan hingga saat ini menjadi dekan. Lalu agar UGM sendiri memiliki banyak pilihan yang juga itu terbaik dan dari orang-orang yang mampu. Dan saya ingin berbakti, juga berkontribusi lebih untuk UGM, karena di tingkat fakultas sudah saya jalani.

Kenapa periode saat ini (2017-2022) menjadi waktu yang tepat untuk bapak menjadi calon rektor ?

Pertama, sekarang periode kedua menjadi Dekan FT yang saya nilai sudah cukup secara pengalaman. Yang kedua adalah umur. Sekarang umur saya menjelang 57 tahun pada Juni nanti. Sedangkan batas umur ketika seorang rektor dilantik adalah 60 tahun. Inilah waktu terakhir saya untuk menduduki jabatan struktural seperti rektor, warek dan sebagainya, dan ada kesempatan saya pun mendaftar. Berbuat sebaik-baiknya untuk UGM, karena tidak akan ada tujuan untuk menjabat dua kali. Jadi hanya ada abdi tanpa pamrih.

Saat menulis komitmen ketika menjadi rektor, bapak menyebutkan bahwa “Akan menjadi pemimpin yang mengembangkan nilai kebudayaan dan nilai jati diri ke-UGM-an”. Apa maksudnya serta bagaimana bentuk konkritnya?

Dalam mengelola UGM ini, saya berdasar pada nilai itu. Kerakyatan, bahwa ini adalah universitas milik semua rakyat dimana semua berhak berkuliah disini. Caranya dengan pemerataan pendidikan dan pengalokasian dana. Dimana orang yang kurang mampu, bisa dibantu dengan orang-orang yang lebih mampu.

Universitas nasional, bahwa yang masuk UGM itu adalah orang-orang dari seluruh nusantara. Salah satu caranya dengan berbagai seleksi ke berbagai pelosok. Lalu perlu juga pengembangan bagi mahasiswa yang terpintar di daerah pelosok yang perlu didorong maju dan dikembangkan.

Universitas pusat budaya, bahwa ketika kita punya lulusan yang berkarakter memiliki budaya yang beberapanya seperti teratur, anti korupsi, attitude dan sebagainya. Maka itu bisa menjadi dasar perubahan bangsa. Itu juga akan menghasilkan seni-seni dan budaya yang lebih baik dan punya karakter yang lebih bermartabat.

Universitas Pancasila, Lima dasar Pancasila harus kita tegakkan bersama seperti toleransi agama, persatuan dan keadilan untuk semua. Itu kita terapkan ke kehidupan di UGM.

Dalam program kerja, bapak berencana membuat sistem kuliah lintas fakultas (4 sampai 8 sks). Apa alasannya?

Alasannya agar UGM itu tidak tersekat-sekat dan lulusannya lebih bangga sebagai alumni UGM, bukan sebagai alumni Fakultas Teknik, FEB, dll. Jadi ada nilai ke-UGM-annya disana seperti sejak diajarkan di awal kuliah kita ajarkan persatuan. Seperti mata kuliah Manajemen di FT bisa dipelajari di FEB Manajemen, dan sebaliknya yang bisa relevan dan saling berhubungan.

Kita ingin sejak mahasiswa, mereka sudah mengenal antar fakultas. Selain itu saya ingin menghilangkan citra yang negatif pada fakultas tertentu. Seperti pertandingan olahraga antar fakultas yang malah membuat bentrok, itu sebenarnya bukanlah hal yang patut diteruskan karena kita satu sama-sama UGM.

Terkait organisasi kemahasiswaan, bapak menulis “menguatkan organisasi dan pendanaan organisasi UKM-UKM”. Itu bentuknya seperti apa?

Kita akan lakukan publikasi internasional dan pendanaan penelitian-peneliatian jurnal-jurnal untuk mahasiswa. Saya ingin menguatkan, mungkin dari struktur mahasiswanya, atau dalam substansi kegiatannya. Intinya ingin menyemarakkan kegiatan-kegiatan mahasiswa terutama perlombaan-perlombaan. Karena alumni yang ikut organisasi itu ramah, supel dan mudah bergaul, juga berhasil secara sosial di lingkungan kerjanya.

Dan kedepan kita perlu giatkan lomba-lomba secara kuantitas. Tidak hanya melulu Saintek, Soshum-pun harus kita giatkan juga.

Soal peremajaan alat-alat laboratorium bagaimana pak ?

Saya juga sudah mengusahakan itu. Salah satunya lewat lembaga asal Australia, dengan syarat seperti penelitian dan publikasinya harus baik. Sehingga kita bisa tahu mahasiswa yang memang perlu dibantu dalam alat laboratorium.

Memang kondisi alat-alat kita sudah tidak baru.Usaha yang dilakukan di Fakultas Teknik salah satunya bekerjasama dengan Chevron membantu dana untuk pembelian alat-alat. Saat ini universitas juga melakukan peminjaman ke Jepang, sehingga mahasiswa peneliti juga terbantu, tidak perlu keluar universitas untuk menggunakan alat. Karena kita tidak bisa mengandalkan dana UKT untuk hal semacam ini, jadi kita harus ada dana kreatif semacam Chevron tadi.

Apakah nanti ada program di luar empat bidang utama dari rancangan pokok yang akan dilakukan ?

Untuk program yang lain semuanya bisa masuk kedalam empat bidang itu,  jadi apabila program yang tidak saya tulis, saya ingin UGM bertindak nyata dimana kita bisa mendatangkan orang-orang yang grade-nya dibawah kita seperti Laos, Kamboja, Vietnam. Jika kita bisa menarik (mereka –red) dan berkuliah disini, pasti ada keterikatan dengan kita nantinya. Maka akan bisa menguntungkan kita dari segi kerjasama. Saya ingin memperkuat pengaruh kita di ASEAN, dengan cara akademik pertukaran seperti itu, dengan tanpa mengurangi kuota sivitas akademika nasional di UGM.

Bagaimana menurut bapak mengenai transparansi dana di Kampus ?

Saya sangat mendukung. Regulasi itu sudah mengatur keuangan kita dengan rinciannya. Mahasiswa dan warga UGM lain berhak tahu. Saya akan membuat itu transparan dan bisa diketahui semua pihak. Itu sangatlah penting, contohnya apabila gaji rektor dianggap terlalu banyak maka diturunkan saja dan disepakati berapa pantasnya gaji seorang rektor. Intinya tidak perlulah kita mencari harta dengan cara yang tidak-tidak begitu (tidak benar –red). Pengabdian yang utuh, menjadi insan yang lebih bermartabat.

Apa alasan bapak menggunakan motto “harmoni sinergi unggul mutu”?

Alasannya dimana seseorang itu tidak perlu menguasai semua hal. Ada beberapa bidang yang tentu akan lebih kuat dan paling tinggi. Agar lebih kuat lagi kita harus saling bersinergi, tidak maju sendiri-sendiri. Maka perlulah kita bersinergi maju bersama, dimana caranya yang maju itu mempengaruhi yang belum maju dan saling bersinergi saling menguatkan maju bersama yang nanrtinya akan unggul.

Bagaimana sosok pemimpin ideal, khususnya seorang rektor UGM  menurut bapak?

Rektor UGM itu harus bisa berpikir global, bisa menempatkan posisi UGM untuk mendunia. Dan rektor juga harus bertindak lokal, dimana mau mengurus yang hal-hal detail. Rektor juga harus berpikir besar bertingkah detail, harus bisa menunjukkan tujuan yang realis tapi tetap terlibat perhatian terhadap yang kecil-kecil. Kemudian mempunyai link yang kuat baik nasional maupun internasional, agar kita bisa minta tolong, menjalin kerjasama dan berelasi satu sama lain. Itu gambarannya.

Oleh: Ihsan Nur Rahman, Andira Putra/Bul
Penyunting: Willy Alfarius

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here