Karcis Kuning: Kunci Kampus Educopolis?

Kurang lebih pukul 06.25, ketika gerimis mereda, sinar mentari mulai menyusup melalui celah-celah rindangnya pepohonan. Dari lereng pegunungan, seorang mahasiswi segera meluncur ke kampus mengingat hari itu ia harus menghadiri kelas sesi pertama.

Tersisa 35 menit lagi, pikirnya, sambil sesekali menengok arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jalanan cukup lengang, dan permukaan aspal tampak sedikit lebih gelap dari biasanya. Sisa air hujan tadi pagi belum kering seutuhnya. Meski begitu, kemacetan di lampu lalu lintas utara ringroad sudah menjadi rutinitas pengawal hari, tak dapat dihindari lagi. Sembari menunggu giliran lampu hijau, ia kembali menengok arlojinya. Jarum panjang menunjukkan angka sepuluh. Masih ada cukup waktu untuk parkir dan berjalan ke kelas sebelum kuliah dimulai, katanya dalam hati. Namun, kelegaan itu tak bertahan lama. Melihat pemandangan kendaraan yang mengular di kawasan masuk lembah, sudah pasti ia terlambat. Ia kira telah terjadi kecelakaan atau apa entah di depan. Tetapi, rupanya “hanya” perkara karcis kuning. Hatinya mengumpat.

Kejadian tadi pagi rupanya cukup menyita perhatian dan menyulut emosi civitas academica UGM. Tidak ada sosialisasi terlebih dahulu dari pihak universitas. Alhasil, kejadian tersebut merugikan mahasiswa yang harus menghadiri kelas pagi dan menjadi kambing hitam atas keterlambatan mereka. Setelah lini masa penuh dengan berbagai keluhan, melalui official account UGM di salah satu media sosial, pihak universitas memberikan klarifikasi terkait aktivitas tersebut. Di postingan itu disebutkan, bahwa kemacetan timbul akibat adanya uji coba terkait arus lalu lintas di kawasan UGM.

Kebijakan-kebijakan UGM terkait ruang publik akhir-akhir ini memang bisa dibilang cukup ekstrem, seperti penutupan jalan Prof. Natanegoro dan uji coba portal tadi pagi. Apabila ditilik lebih dalam, hal tersebut kemungkinan besar dilatarbelakangi oleh cita-cita UGM untuk menjadi kampus educopolis. Dilansir dari laman antaranews.com, menurut Prof. Sudjarwadi sebagai rektor UGM pada tahun 2009, kampus ‘educopolis’ adalah kampus dengan kondisi lingkungan yang kondusif untuk proses pembelajaran dalam konteks pengembangan sinergi interdisiplin dan tanggap terhadap isu ekologis. Di sisi lain, educopolis juga dapat diinterpretasikan sebagai suatu konsep lingkungan yang menyajikan suasana kota dalam kampus sebagai lingkungan akademik. Sehingga, segala kebutuhan mahasiswa dapat terpenuhi dengan nyaman dalam satu kawasan kampus tertentu saja. Berbagai universitas di negara-negara Barat kebanyakan sudah menerapkan konsep ini. Konsekuensinya, pada kampus-kampus educopolis, lingkungan kampus cenderung tertutup untuk publik.

Meski begitu, dilihat dari salah satu upaya UGM untuk mewujudkan cita-citanya tersebut, dengan memajukan portal seperti tadi, rasanya kurang tepat.

Perlu diingat pula bahwa, lokasi kampus UGM terletak di kawasan yang cenderung ramai. Keputusan UGM untuk membangun portal dan menutup akses jalan dari publik kemudian terkesan seperti keputusan yang grusa-grusu. Persiapan UGM untuk menjadi kampus educopolis pun terkesan kurang matang. Hasilnya, kebijakan yang dijalankan pun terkesan semena-mena dan menimbulkan ketidaknyamanan banyak pihak.

Walaupun kejadian tadi pagi hanyalah sebuah uji coba, tetapi pembangunan portal di depan pertigaan Perikanan menjadi bukti keseriusan pihak kampus akan pemindahan portal dari depan bundaran Filsafat. Kebijakan UGM tersebut memang sejalan dengan cita-citanya sebagai kampus educopolis. Meski demikian, tidak berarti kebijakan ini kemudian memberikan benefit untuk semua pihak. Apabila portal dimajukan hingga ke depan pertigaan Perikanan, maka kemungkinan besar akan banyak mahasiswa yang dirugikan. Hal tersebut lantaran mahasiswa UGM yang membawa kendaraan ke kampus cenderung melewati daerah itu untuk menghindari macet di perempatan Mirota. Selama ini, daerah lembah dijadikan alternatif utama untuk masuk kawasan kampus, karena lebih lengang dan dekat. Namun, alternatif tersebut tidak akan menguntungkan mahasiswa lagi apabila kebijakan tersebut benar-benar dilakukan.

Di sisi lain, meskipun belum dilakukan penghitungan volume kendaraan secara spesifik, tetapi posisi titik portal masuk yang hanya berjarak beberapa meter di depan pertigaan Perikanan dapat menyebabkan kemacetan beruntun seperti pada uji coba tadi. Hal tersebut dikarenakan volume kendaraan yang cukup tinggi dari arah Barat dan Timur, serta adanya arus lalu lintas ke selatan dari arah barat dan timur yang hanya diatur oleh petugas SKKK. Selain itu, adanya lampu lalu lintas di ujung jalan menuju ke Barat juga perlu dijadikan pertimbangan, mengingat durasi lampu hijau yang sangat pendek. Pembagian jalan yang sempit menjadi dua lajur untuk kendaraan roda dua dan roda empat pun turut memperparah kemacetan.

Sepertinya kita perlu mengingatkan kembali, bahwa tidak semua mahasiswa tinggal di indekos yang dekat dengan kampus. Kemacetan seperti tadi tentu akan sangat menjadi siksaan bagi mahasiswa yang tinggal jauh dari kampus. Mereka harus berangkat sangat pagi. Apalagi bagi mahasiswa yang tinggal di daerah “atas”. Mereka harus melalui kemacetan di persimpangan ringroad terlebih dahulu. Lagi pula tidak semua orang yang melalui portal itu pasti menuju ke kampus kita tercinta. Mahasiswa dari universitas lain juga melalui jalan tersebut karena lokasi fakultasnya yang berada di kawasan itu. Mungkin UGM kurang mempertimbangkan dampak-dampak kebijakannya bagi kenyamanan mahasiswa dan masyarakat sekitar. Apakah ambisi UGM untuk menjadi world class university semata-mata hanya ditekankan pada perbaikan lingkungan secara fisik saja?

Penulis: Hanum Nareswari/Bul
Penyunting: Dandy Idwal Muad


Referensi
www.antaranews.com/berita/166444/ugm-jadi-kampus-educopolis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here